Friday, February 24, 2017

GDB Ngariung #10: Surviving As A Freelance Artist

Hari rabu yang lalu saya berkesempatan untuk mengikuti acara GDB Ngariung di Dicoding Space. Ini adalah nama kegiatan dari Game Developer Bandung untuk "gathering" (alias "ngariung" kalau dalam bahasa sundanya). Topik yang dibawakan bisa bermacam-macam. Saat itu temanya "surviving years in the industry as a freelance game artist" alias pengalaman tips dan trik dalam kerja lepas. Kebetulan yang menjadi pemateri adalah Pak Dicky.


Pak Dicky

Pak Dicky adalah seorang ilustrator. Beliau sudah lama berkecimpung di dunia "gambar-menggambar." Saya pribadi kenal beliau semenjak GGJ tahun 2015 yang lalu. Agak flashback, saat GGJ saya  kurang mahir untuk merekrut orang lain, entah malas atau malu, hahaha. Kebetulan sekali Pak Dicky datang dan menawarkan diri untuk menjadi artist. Nah, semenjak itulah saya kenal dengan beliau.

Saya perhatikan sepertinya orang-orang kebanyakan memanggil beliau "ko Dicky". Tapi karena sudah terbiasa, di artikel ini saya tulis "pak Dicky" saja ya. Hehe.

Acara dimulai sekitar jam 19:00 karena pak Dicky terjebak macet. Setelah persiapan laptop, powerpoint, dan koneksi internet, presentasi pun dimulai.

1991

Pak Dicky mulai bercerita tentang perjalanan karirnya. Kegiatan yang sering dilakukan saat dulu adalah mendesain kaos untuk dijual. Dulu juga belum begitu marak untuk melakukan pengerjaan gambar secara digital. Baru sekitar tahun 1991 beliau mulai menerjunkan diri di ilustrasi berbantukan komputer.

Walaupun pendidikan formal terakhir hanyalah SMA, pak Dicky berani untuk mencoba-coba mengikuti bermacam-macam kompetisi yang berhubungan dengan ilustrasi digital di 99designs. Batu loncatan beliau adalah saat munculnya desain iOS yang skeumorphic. UI yang dulunya hanya fungsional dan kaku, iOS kemudian mengedepankan bentuk "seolah-olah asli." Hal ini meyakinkan pak Dicky untuk bisa ikut menggarap pembuatan aplikasi. Terbukti, setelah mengikuti berkali-kali, pak Dicky menang tawaran di 99designs.

Walaupun saat itu memenangkan kompetisi, bukan serta merta langsung mendulang emas. Pak Dicky tersandung dengan beragam hal teknikal seperti jenis file PNG dan 9-Slice. Tapi beranjak dari sini, pengetahuan tentang dunia development dan art beliau semakin luas.  Begitu pula dengan sumber klien.

Dunia Internet

Karena beliau memulai pekerjaan dari internet, jadi klien yang didapat pun akhirnya berasal dari luar. Selama itu beliau tidak pernah tahu (dan tidak begitu ingin tahu) sumber dari lokal. Setelah mengikuti kegiatan game jam tahun 2015 lalu, beliau akhirnya merasa terbukakan peluang lebih besar. Yang awalnya hanya ingin memiliki akun google play saja, akhirnya hingga membuat sebuah studio bernama Visionesia Studio. Dulu yang awalnya freelancer akhirnya jadi yang nyari freelancer.


Poin-poin Penting dalam Freelancing

Pak Dicky kemudian memberikan hal-hal yang penting dilakukan untuk melakukan Freelancing. Walaupun topik utama pembahasan sebagai artist, namun tips yang disampaikan terasa umum.

1. Mentality

Every final product is your best (no excuses)
Saat membuat produk, hal yang kamu buat adalah hal yang paling bagus yang pernah kamu buat. Jangan pernah bilang "Ah, kliennya soalnya waktunya sedikit..." atau "Budget dari kliennya cuma seberapa" karena itu sangat buruk. Lebih baik tidak usah ambil proyek itu jika memiliki alasan seperti tadi.

Yang perlu diingat adalah kepuasan, karena perlu diingat karya yang dibuat hasilnya dipublish. Pak Dicky berujar, walaupun mungkin gambar-gambar beliau sepuluh tahun yang lalu bila dilihat sekarang terasa konyol, namun dulu beliau mengerjakannya dengan rasa puas.

Jangan lupa juga, setiap karya yang dibuat memiliki tanggung jawab publik. Karya yang dibuat tidak hanya sekedar jadi, tapi juga berguna untuk diri sendiri ke depannya.

Responsibility To Client/Project
Saat berhubungan dengan klien pastikan 1x24 jam selalu kontak, walaupun hal sekecil apapun itu. Misalnya jikalau gambar asset, walaupun progress tidak besar, hanya sekedar sketsa dan foto, beri tahu laporannya. Jangan kabur. Jangan biarkan klien buta. Ini hal yang sangat penting, karena ini salah satu poin yang membuat klien percaya.

Jangan kabur.

Pak Dicky ada bercerita mental kabur-kaburan ini sering ditemui di asia tenggara. Klien-kliennya yang dari luar negeri kebanyakan berpendapat seperti itu. Alasan pak Dicky menggunakan nama samaran juga karena ini. Katanya lumayan berpengaruh loh.

No room for mediocrity
Jangan bikin cepat-cepat dan asal jadi karena "ah, segini juga cukup". Jangan bikin hanya karena mau buru-buru diposting di Facebook. Jangan membuat pekerjaan yang dibuat dengan "One Sitting".

Saat bekerja, coba tinggalkan beberapa saat, kemudian kembali lagi. Pak Dicky bercerita, kalau sudah jenuh, gambar yang dibuat terasanya bagus-bagus saja. Untuk melepas jenuh bisa dengan ditinggalkan dulu, tidur, dan kembali lagi besoknya. Pasti terasa ada hal yang kurang. Kalau misalnya punya beberapa project, coba putar pengerjaannya ke beberapa project.

Hal-hal itu semua bermanfaat bukan untuk klien. Setiap karya adalah promosi untuk diri sendiri. Pak Dicky menekankan di zaman internet seperti ini sudah tidak bisa lagi ditutupi oleh sebuah label. Orang bisa tahu apa dan siapa yang mengerjakan sebuah karya.

2. Be Prepared

Online Porfolio
Pak Dicky lebih senang untuk melihat online portfolio dibandingkan dengan yang dikumpulkan saat lamaran kerja. Dengan ini beliau tahu "rasa" dari orang yang memiliki portfolio dari tahun ke tahun. Online portfolio juga hal-hal yang dipikir terbaik oleh pemiliknya, tidak sekedar taruh tanpa arti.

Kalau bisa memiliki personal domain lebih keren



Separate Personal Work & Pro Work
Yang hereuy-hereuy (sunda: bercanda) taruh saja di Facebook. Untuk portofolio kerja, taruhlah di website seperti behance, artstation, dribbble. Pisahkan juga berdasarkan jenis-jenis karya agar klien bisa memilih bentuk yang diinginkan.



Make it pro, only serious work
Kalau memungkinkan ada account pro, belilah yang pro. Dengan ini ada anggapan pekerja memiliki niat dan usaha lebih.

Tidy Up LinkedIn Account
LinkedIn diisi. Serius. Beliau berpengalaman sekitar 90% yang view LinkedIn, 2-3 hari kemudian ada email yang masuk menawarkan pekerjaan.  Walaupun rasanya males, tapi LinkedIn sangat berguna.

3. Workflow

Iterate!
Jangan dibiasakan walaupun pengerjaannya lama, kemudian hilang, tidak bisa kontak, dan berusaha memberikan surprise dengan gambar yang sudah jadi. Salah.

Ide apapun itu, baik itu sketsa, dimulai dari awal harus dilihatkan ke klien. Usahakan setiap hari selalu beri ke klien dan lakukan iterasi. Sangat ditakutkan kalau sudah melakukan pengerjaan kemudian "nggak kena" dengan klien.

Kebanyakan hal ini dilakukan oleh freelancer yang sudah memiliki kemampuan lebih. Walau hasilnya bagus, tapi gak bisa dipakai sama klien, sama saja bohong.

Give notes/documentation each work
Deskripsikan apa yang sudah dikerjakan. Jelaskan alasannya tentang hal yang di gambar kepada klien. Klien lebih senang dengan hal ini. Mungkin yang dirasa oleh kita saat menggambar seperti terlalu obvious, tapi bisa jadi klien tidak tahu. Hal ini juga meyakinkan klien bahwa setiap bentuk ada maknanya dan bukan tidak sengaja.

Work Fast (Efficiency)
Pak Dicky setiap melihat sebuah gambar setelahnya akan muncul pertanyaan "berapa lama?" Beliau berujar orang pasti bisa membuat gambar seperti apapun itu, tapi berapa lama itu yang berbeda-beda tiap orang. Apalagi kerja dengan orang luar biasanya dihitung per jam. Dengan lebih cepat, berarti ada waktu untuk bisa menambahkan dan iterasi. Hal ini tidak bisa instan dan harus dilatih.

Latihan untuk bekerja secara efisien harus dilakukan setiap hari dan terus belajar.

Pak Dicky juga menambahkan hitungan per jam itu tidak seenak yang dibayangkan dan memang dihitung berdasarkan waktu bekerja. Untuk melakukan tracking kerja beliau menggunakan aplikasi bernama timingapp.

Work Smart (Tools & Technique)
Semakin jago dengan tools yang dibuat, semakin produktif dan membantu dalam pengerjaan. Kuasai hal-hal yang ada dalam tools.

Pak Dicky bercerita ada suatu kala kliennya meminta asset yang dibuat berbulan-bulan diminta untuk dilokalisasi menjadi bahasa rusia dalam pengerjaan beberapa waktu. Untungnya karena beliau membiasakan rapi dengan layering dan tahu penggunaan script photoshop, proses export jadi lebih cepat.

Freelance?

Jadi, tertarik untuk freelance? Jadi walaupun namanya freelance bukan berarti "free" dan seenaknya. Freelance tetap professional dalam bekerja dan hubungan ke klien. Bedanya bossnya, manajemen keuangan, HRD, hingga Public Relation adalah diri sendiri.

Wednesday, February 1, 2017

GGJ Di Jogja

Global Game Jam atau disingkat dengan GGJ (baca: Ge Ge Je, atau jijiji, atau gégéj, atau gujuguju juga boleh). Hm... saya sudah mengikuti GGJ selama 3 tahun. Rasanya pengen nge-gamejam yang aneh. Aha! Bagaimana kalau GGJ nya di kota yang lain?



Global Game Jam Jogja 2017

Global Game Jam adalah acara tahunan yang dilaksanakan di seluruh dunia. Penyelenggaranya, seperti nama acaranya, memang "global", tapi dilaksanakan secara "lokal". Tempat yang ingin membuat GGJ di areanya secara "lokal" tinggal mendaftarkan diri ke penyelenggara pusat, kemudian pusat akan mendelegasikan panitia lokal untuk membentuk acara GGJ di masing-masing tempat.

GGJ dilaksanakan di ratusan negara, tidak terkecuali Indonesia. Di Indonesia sendiri terdapat belasan penyelenggara GGJ tersebar di berbagai kota. Bandung salah satunya, kota yang selama 3 tahun ke belakang selalu saya sambangi untuk numpang makan pas GGJ.

Apa manfaat GGJ? Selain menjadi momen uji coba mencemplungkan diri ke industri game, GGJ juga sarat akan pertemanan. Banyak yang bikin studio game atau sekedar mencari rekanan kerja gara-gara GGJ. Bisa juga nyari pacar sih. Tapi herannya pas GGJ ceweknya suka dikit loh. Nggak tahu kenapa.

EH. Balik lagi ke topik.

Sebagai momen tahunan yang yahud, sayang rasanya kalau GGJ nya cuma "GGJ aja". Beruntung saya dipertemukan dengan rombongan sirkus yang ingin berduyun-duyun menyambangi kota Jogja sebagai bagian dari tur jalan-jalan mengikuti Global Game Jam 2017.

Ikut dong mz~

Pasca Produksi

Seandainya saja kami punya pintu ajaib doraemon, atau pistol portal, ah... ena. Karena kami belum memiliki artefak seperti itu, maka pergi ke Jogja harus dilakukan dengan cara makhluk fana, perjalanan.

hurr... hurr...

Jika menggunakan kereta api, biaya satu orang ke Jogja bisa sampai Rp 600.000. Kalau naik bis kayaknya... terlalu ribet. Untungnya dua orang di antara kami bisa mengendarai mobil. Asik. Kebetulan juga ada yang punya mobil. Asik. Jadi bisa lebih hemat. Asik. Penginapannya di rumah mas Karu. Asik. Gratis. Asik asik asik.

Agar persiapan terasa mantab, kami pun menyiapkan Trello khusus ke Jogja.

jreng jeng
Setiap card menjelaskan apa saja yang harus disiapkan. Mulai dari baju, obat-obatan, sampai mau makan apa.
Diskusi sengit berapa banyak celana dalam harus diboyong
Untuk baju, saya cuma bawa satu kemeja. Padahal untuk setelan sehari-hari saya selalu pakai kemeja. Hm.. tapi karena tasnya nggak cukup jadi di Jogja pakai kaos aja ah. Lagian Jogja panas kan?

Pernak-pernik per-game-development-an
Potions, siapa tahu kurang HP
Mumpung di Jogja, sayang dong kalau nggak melipir-melipir. Untuk itu kami juga memasukkan kartu-kartu tujuan
Hore. Hore. Wisata
Baru tahu habis artikel TiA :(
Dan tentu saja mau makan apa
Deket kantor ada yang jual gudeg di foodcourt nya Toserba Borma. 

Sebelum itu, kami juga daftar GGJ Jogja terlebih dulu. Agak harap-harap cemas sebenarnya karena Jogja agak belakangan mengumumkan pendaftaran GGJ nya. Pas diumumkan, saya dan rekan-rekan segera mendaftar. Takut aja kehabisan tiket, gitu. Huehue.

Setelah semuanya oke, tinggal packing dan siap-siap deh!
Ke Jogja bawa satu tas aja, tapi isinya penuh baju

Sampo.. odol... sabun... tisu..

Jogja Here We Come!

Sehari sebelum keberangkatan saya dan beberapa rekan menginap di kantor, supaya tinggal berangkat.

Oh iya, kan rencananya pas berangkat kami membawa mobil sendiri, beruntungnya mas Lukman menawarkan seorang supir untuk mengantar sampai Jogja. Jadi nggak bisa ngobrol vulgar capek. Hebatnya pak supirnya pas sampai Jogja bakal langsung balik ke Bandung naik kereta. Waw.

19 Januari 2017

Jika menggunakan kereta, perjalanan Bandung ke Jogja hanya memakan waktu 8 jam. Nah, karena kami naik mobil, perjalanannya jadi sedikit lebih lama, yakni 12 jam. 
Makan dulu ah
Makan segini bertujuh. Hm.. so so lah ya.
Sebenernya karena naik mobil sendiri jadi agak lebih santai lah ya, tapi jangan lupa, pak supirnya ngejar kereta yang berangkat jam 8 malam. Jadi agak ngebut juga sih. Ahahaha. Professional driver was wes wos banget dah. Rada tegang sepanjang perjalanan mantengin si Bapak nyusul bis gede, nyelip di antara motor dan mobil lain, wiiii. Tapi kami sempat istirahat juga kok beberapa kali. 12 jam perjalanan agak pusing juga cuy.

toilet di sebuah pom bensin yang internasional

Akhirnya Sampai Jogja

Kami sampai di Jogja sekitar jam 7. Setelah mengantarkan pak supir ke stasiun, kami kemudian makan dulu. Masih agak-agak mual dan pusing, jadi isi perut dulu biar gak masuk angin.
Makan di sebuah tempat makan bernama Harvest... apa gitu. Fontnya kayak Harvest Moon pokoknya
Setelah lumayan kenyang, kemudian kami berangkat ke rumah mas Karu. Setelah blocking kasur, mandi, terus langsung tidur deh.

Kasurnya banyak

Pagi di Jogja

20 Januari 2017

Pagi-pagi masih pada ngantuk. Keluar rumah bareng Erri sama Kang Tomy nyari sarapan. Kebetulan di sekitar rumah mas Karu banyak yang jualan makanan. Kami singgah sebentar di warung nasi gandul. Kalau nggak salah Rp 15.000 deh seporsinya. Herannya air putihnya bayar, segelasnya Rp 2000. Hm...
Penampakan si Nasi Gandul
Habis itu balik, mandi, sholat Jumat deh, dan tentu saja, makan lagi.
"Ee!"
Dan akhirnya, makan gudeg dengan krecek. Yaay! 

Gudeg krecek telur 

Harga-harganya
 Setelah itu siap-siap ke GGJ Jogja deh.

GGJ Jogja

Akhirnya kami sampai ke tujuan kedua setelah jalan-jalan utama! Global Game Jam Jogja!

Berbekal Google Maps, kami sampai di sebuah kafe lucu. Namanya Java Poetry. Sampai sana langsung daftar, dapat nametag, kupon makan, dan duduk deh.

Sebagai pembuka, ada materi bagus dari Om Lemba tentang game design. Menarik deh. Pembahasannya seputar desain game. Awalnya pembahasan tentang mekanik game bisa dari stopwatch, lama-lama bisa dikembangkan ke rhythm game. Materi berikutnya tentang pembatasan rule game, misalnya platformer tanpa platform. Sisanya sesi sombong-sombongan prototype beliau. Huehue.

Ada om Lemba. Nice.
Oh iya, Circus Horse mendapatkan kesempatan untuk memberikan materi juga. Topiknya sih tentang dari game jam ke produk. Produk-produk Circus Horse (formerly Maxi and The Gang) memang diawali dari game jam sih, sampai dapat "rumusan" horor Hollow Rhyme juga awalnya dari serangkaian game jam yang sudah diikuti.

Ciye jadi pemateri. Aduh fotonya ngeblur.
Dan kemudian ditutup sama Om Ube yang membahas game jam itu gimana, serta pengumuman tema.
tips dan trik dalam gamejam dari om Ube

Wave

Tema GGJ kali ini gak begitu aneh. Satu kata simpel dan cukup jelas:

Wave

Gelombang. Atau lambaian. Atau yang deket-deket berhubungan. Tapi jelas. Bandingin sama tahun 2014 nih:

We don't see things as they are, we see them as we are.
Hedeh.

Ah, setelah itu ada sesi ice breaking dulu. Setelah perkenalan masing-masing orang, kemudian main Ha-He-Ho. Ha-He-Ho itu gini cara mainnya:

  1. Semua pemain merapatkan telapak tangannya
  2. Orang pertama bilang "HA!" ke orang yang dia pilih dengan menggerakkan tangan dari atas ke bawah seperti mengibaskan pedang.
  3. Orang yang dipilih bilang "HE!" dengan menggerakkan tangan dari bawah ke atas. Ngeparry gitu.
  4. Orang di sebelah kiri dan kanan yang dipilih bilan "HO!" dan menggerakkan tangannya ke arah orang yang dipilih.
  5. Yang salah sebut keluar lingkaran hingga tersisa 3 orang.

Yang menang dapat hadiah. (Dok: Erri)

Setelah itu sesi bebas ngobrol sambil brainstorming. Kemarin ngobrolnya sama anak-anak Circus Horse lagi sih. Ngobrol apa aja yang kepikiran dan aneh. Ada lompat-lompat gelombang, dadah-dadah, makan sate usus... aneh-aneh dah. Saya sendiri agak-agak kurang kepikiran sih mau bikin apa sebenernya. Masih roman-roman meriang. Huehue.

(Dok: Erri)

Beberapa ide yang terlempar (Dok: Erri)

(Dok: Erri)
Setelah itu peserta dikumpulkan untuk pembagian tim. Setiap peserta yang punya ide mempresentasikan mau bikin game seperti apa. Nanti yang tertarik bisa langsung gabung.

Presentasi ide

Ujung-ujungnya dari Bandung jadi 4 tim. 2 artist ngebantuin tim lain juga.

Pagi GeGeJe!

21 Januari 2017

O iya belum foto ruangan kerjanya.

Jeng jeng. Di tengah gelar tikar buat tidur.
Di Java Poetry disediakan 3 ruangan besar dengan meja-meja panjang. Bisa juga ngerjain di area teras. Saya memilih ruangan paling dekat setelah ngobrol brainstorming kemarin, jadi aja langsung masuk. Sebenernya bebas siapa aja mau milih di mana, malah ngarep ada temen dari Jogja yang seruangan. Tapi karena udah gelar tiker mau tidur duluan kali di tengah ya, jadinya yang lain pada gak ada yang masuk.

Atau karena bau belum mandi kali ya.

Hm.. bisa jadi.

Pagi harinya kami diajak senam, terus makan pagi. Sembari makan pagi ngobrol-ngobrol sama om Ube tempat wisata Jogja yang asyik.
Obrolan serius. Gitu amat mukanya pak
Setelah itu kita lanjut ngerjain, makan siang, ada sesi sharing dari Samsung tentang challenge Tizen, terus presentasi progress game.

Makan siang. Asik.

Sesi sharing dari Samsung.

Es Krim!

Java Poetry letaknya tepat bersebelahan dengan toko es krim Gelato Myoozik. Erm.. lebih tepatnya satu bangunan sih. Di sana ada jual eskrim macam-macam rasa. Harganya juga nggak begitu mahal untuk tampilan es krim sosialita, mulai dari 10rb bisa dapat 1 scoop.

Rasa yang ditawarkan juga aneh-aneh, mulai nangka, mint, sampai asam jawa.

Es krim rasa asam jawa.



Yang ini rasa pistachio
Setelah itu kami pulang dulu. Soalnya rencananya mau jalan-jalan malam mingguan di Jogja.

Malam Mingguan Di Jogja

Ternyata kebablasan ketiduran karena capek. Hahaha. Ujung-ujungnya makan di angkringan deket rumah mas Karu deh.

Ngomongin angkringan, di Bandung angkringan itu hal yang langka. Kalau di Jogja kayak orang jualan batagor atau cilok aja. Ada di mana-mana. Enak jadinya kalau lapar dan kurang duit tinggal ke angkringan terus ambil nasi kucing (nasi porsi mini) sama gorengan. Rp 5.000 bisa kenyang, haha.
Angkringan otentik

Pagi Lagi Uhuy

22 Januari 2017

Dan udah pagi aja. Nggak tahu, rasanya tidurnya nyenyak banget. Sampai-sampai alarm yang ditaruh di sebelah telinga nggak kedengeran sama sekali. Nyelesein dikit-dikit gamenya, terus upload deh.

Nge-GGJ nya di rumah dulu bentar.

Jalan-Jalan

Hari ini jalan-jalan lagi! Setelah dimulai dengan beli Bakpia Kurnia Sari (lupa foto-foto di sini), kami langsung lanjut ke....

Jejamuran


Kami jalan-jalan ke Jejamuran, tempat wisata rekomendasi mas Lukman. Di sana tempat makan-makan beragam jenis jamur. Ada semur jamur, sate jamur, bahkan gudeg jamur. Unik deh.

Lucunya di sana juga ada terapi ikan. Itu tuh, yang masukkin kaki terus ikannya nyium-nyium kaki. Saya nyobain juga tapi gak tahan lama sih, geli.

Makan jejamuran (Dok: Erri)
Harganya standar tempat wisata lah. Makan berenam total-total 238rb. Berarti seorang sekitar 40rb. Asam manis jamur tiramnya recommended btw.
ini harga-harganya

Setelah itu kita ke Malioboro buat beli oleh-oleh segala rupa. Karena parkirnya bingung mau dimana, jadi kami ke stasiun dulu, terus jalan kaki ke Malioboro nya. Deket banget kok.

ke stasiun buat parkir doang.

Kalau mau beli oleh-oleh Malioboro lengkap banget. Dari kain, blangkon, kaos... apa aja ada. Disana ada yang jual baju 15rb dong. Murah-murah lagi. Saya beli kain 4 meter tapi dihargain 3 meter sama yang jualan, baik banget deh.

Banyak yang pengen dilihat rasanya. Nggak kerasa aja mau 2 jam di sana.


ritual foto di tulisan Malioboro (dok: Erri)
Kain batik. 

Lanjut GGJ lagi

Setelah itu kita balik lagi ke Java Poetry. Di sana langsung disodorin kertas untuk award iseng-iseng. Bukan, bukan macam game terfavorit gitu, tapi award nyeleneh. Ada tukang males2an, tukang ngobrol, tukang makan, tukang tidur, sama tukang minum kopi. Hihih.

Formulir buat voting

Setelah wawancara tiap tim, santai-santai, terus presentasi game yang dibuat deh.
Maxi presentasi
Saya sama mas Karu bikin game tanpa gambar, jadi cuma pakai suara. Gameplaynya macam Darksoul. Battle sama satu monster. Harus pake headset sih karena pakai 3D sound, memanfaatkan GELOMBANG (diemphasize, haha) suara. Bisa dicoba dimainain di sini http://globalgamejam.org/2017/games/cave-blind

Erri, Maxi, dan Mas Lukman bikin game benerin sinyal TV. Gamenya seru kalau dimainin dua orang http://globalgamejam.org/2017/games/oh-my-show

Kang Tomy bikin mini game putar-putar http://globalgamejam.org/2017/games/voxalala-friendship-wave

Setelah presentasi, pembagian award lucu-lucuan, terus after party deh! Makan-makan! Horaay!!
Om Yogie menang tukang tidur dan tukang makan, wakak
After party yay!


Angkringan!!

Sate kulitnya lenyap seketika

Kita juga kebagian satu scoop es krim untuk satu orang. Wah pada ngantri dah pokoknya.

Ngantri milih es krim rasa apa

Setelah itu ngobrol-ngobrol santai deh. Kebetulan banget ketemu dengan Mas Oscar, salah satu pegawai di Gameloft. Beliau ngajakin untuk datang ke Gameloft, wah nggak nyangka banget. Jadi bisa ngobrol-ngobrol sambil liat Gameloft Jogja.

Habis puas foto-foto dan ngobrol-ngobrol, terus kita pulang.

Sate Klathak

Gak jadi pulang. Makan lagi. Kali ini diajakin sama Om Ube. Katanya recommended. Jadi sate Klathak ini sebenernya sate domba biasa (atau kambing ya?). Yang aneh itu penusuknya dari jeruji sepeda.

Iya! Jeruji sepeda!

Harga dua tusuknya 20rb. Lumayan. Awalnya nggak mau pakai nasi karena kayaknya udah lumayan kenyang, tapi kok ya rasanya berdosa ya kalau makan daging nggak pakai nasi? Jadinya nambah nasi deh


Makan-makan lagi bareng Om Ube, Mbak Estu, Om Rizal, dan Om Lemba

Penampakan si sate. Itu di sebelah satenya ada gula batu. Gula dari minuman jeruk anget sebenernya, kebanyakan.
Terus pulang deh.

Jalan-Jalan Ver 2.0

23 Januari 2017

Hari ini full jalan-jalan doang.

Kita ke Keraton Ratu Boko.

Tiket masuknya 25rb satu orang.

Gerbangnya bagus


Heh! Jangan buang sampah di artefak!

Oh, ternyata memang ada tempat sampahnya

Makan di House Of Raminten
Unik tempatnya

Tempatnya wangi-wangi dupa sesuatu eksotis

Makanannya segini nih





Terus ke Gameloft deh.

Tempatnya asyik banget. Pas ngeliat dari luar langsung "O SHIT, INI KANTOR!" karena penampakan luarnya memang gedung kantor banget. Agak aneh soalnya ngeliat studio game bentuk kantor, hahaha.
Tempatnya lucu, instagrammable

ini di belakangnya gym loh! Anak Gameloft kekar-kekar semua

jadi kayak angkringan
Di sana ngobrol-ngobrol sama mas Oscar dan mas Ivor. Mulai dari masalah workflow, game studio, sampai tawuran anak SMA dan harga tanah di Jogja.
ngobrol ngalor ngidul curhat

Selfie di depan logo Gameloft. LOH! KEFLIP!
Dan tidak lupa, pulangnya makan Mister Burger. Katanya juga recommended karena murah.




Setelah itu kita siap-siap untuk tidur deh karena besok berangkat jam 5.

JAM 5 NDASMU

Bangun-bangun jam setengah 6! Kok nggak denger sama sekali alarm ya?? Padahal udah diset jam 4, 4:30, 4:50, 5:00. Heran, bisa nyenyak banget. Untung malamnya udah mandi dan packing. Akhirnya kami berangkat jam 6 lebih dikit. Huahaha


Epilogue 


Membuka awal tahun dengan jalan-jalan sambil GGJ. Benar-bener berkesan. Sampai jumpa Jogja! Perjalanan yang asyik!

P.S: Kayaknya isinya bakal diupdate ah kalau sempet. Makin ke bawah makin males nulis soalnya, haha.