Monday, October 31, 2016

Cerita Terjun Ke Dunia Gamedev

It's always fun thing to trace back to your history. Wakak. Jadi ceritanya sekarang mau ngobrol-ngobrol tentang gimana bisa masuk ke Gamedev. Sebelumnya mari kita definisikan dulu apa itu gamedev.

Gamedev itu adalah Game Developer. Game adalah permainan, dan Developer adalah pengembang. Jadi game developer adalah pengembang mainan. Misalnya balon, yang awalnya mainan kempis bisa dikembangkan. Nah, tukang balon itu adalah game developer.

Developer di sini juga bukan developer perumahan ya. Ini kejadian pribadi juga pas masa kecil.
Ibu: "De, kalau gede mau jadi apa?"
Aing: "Mau jadi developer!"
Ibu: "Oh... bikin rumah?"

Iya sih, pengembang juga. Bener kok.

Eh iyak iyak, balik lagi ke topik utama, bagaimana saya bisa masuk ke dunia gamedev ini.

The Story Of CD Bajakan

Saya sudah mengenal komputer sejak lama. Mungkin karena bapak yang kerjaannya accounting dan memerlukan komputer jadinya sering dekat dengan benda ini. Mulai dari komputer yang warna layarnya biru dan cuma bisa dipakai ngetik, terus ada DOS yang bisa gonta-ganti disket segede gaban, hingga mulai muncul Windows 97.. 98.. you mention it. Masih ingat juga bapak pernah punya laptop yang tebal banget. Wah, di rumah lumayan sempat merasakan deh teknologi aneh-aneh.

Karena ada komputer di rumah, jadinya mainan saya ya ini deh tiap hari. Mulai dari gambar-gambar di Paint sampai edit-edit foto, rasanya tiap hari ada aja yang rasanya asyik untuk diutak-atik. Kalau dipikir-pikir konyol juga, gak jelas. Yang agak jelas paling main game Bejeweled, Dynomite, Feeding Frenzy... ya game zaman-zaman dulu. Kadang main sendiri, kadang main sama temen-temen yang datang ke rumah. Selain jadi mencurahkan ide kreativitas, komputer juga jadi sarana sosial saya. Huehue.

Kebetulan dulu saya pakai Windows. Tahu kan penyakitnya Windows? Makin lama makin gak responsif dan harus diinstall ulang. Entah karena file corrupt atau virus, pokoknya install ulang jadi rutinitas. Sering banget. Kayaknya bisa dijadwalkan deh setiap per berapa bulan sekali.

Nah, untuk urusan install ulang saya masih belum tahu caranya gimana. Masih kecil sih, dan di rumah juga gak ada yang bisa. Entah gimana dulu saya bisa ke sebuah kios reparasi komputer. Nama pemiliknya Ahui. Orangnya mandarin tulen. Kiosnya kecil lengkap banget. Barisan mouse di etalase kaca, susunan headset ber-microphone yang kelihatannya canggih, dan tumpukan CD-CD berisi program-program bajakan.

Nah ini, CD berisi program-program bajakan. Ini adalah salah satu rantai yang menghubungkan saya dengan dunia sekarang. Aduh maafkan hambamu ini Ya Allah.

Dunia Musik Nan Asik

Saya tertarik dengan membuat musik. Penasaran aja sebenernya. Jadi saya nyobain deh nyari-nyari aplikasi untuk membuat musik. Dulu sih nyarinya Midi-midi sesuatu gitu. Kebetulan Om Ahui ini punya dalam satu CD. Isinya lengkap, beberapa aplikasi midi dan suite Macromedia.

Setelah nyobain install semua aplikasi midi, saya akhirnya nyerah, karena nggak ngerti cara pakainya, haha! Saya akhirnya nyobain main-main aplikasi yang lain. Macromedia Director. Nyoba-nyoba... eh... bisa buat gambar-gambar. Terus nyoba-nyoba... eh! Bisa gerak-gerak! Saya baru tahu tentang timeline untuk animasi. Perlu diingat dulu internet susah, saya cuma boleh internetan hari minggu, dan nyoba-nyobanya jadi pure nyoba aja iseng-iseng tanpa searching, hahah. 

Terus nyoba-nyobain juga aplikasi Macromedia Flash. Ternyata juga bisa bikin animasi. Kebetulan juga Macromedia Flash ngasih sample-sample yang asyik bisa dicobain. Ooh, menarik. Dan terjerumuslah saya ke dunia animasi.

Dunia Animasi Penuh Aksi

Entah bagaimana caranya dulu bertemu dengan forum yang namanya babaflash. Forum ini tempat berkumpulnya penggiat Flash. Dulu sempat bikin e-card dan animasi lucu-lucu. Makin ke sini makin tahu kalau ternyata Flash juga bisa buat bikin game. Sambil dibimbing di babaflash, eksperimen, utak-atik sample yang ada, saya terjerumus ke dunia programming.

Iye, saya bisa ngoding bukan karena emang pengen belajar programming, tapi karena pengen bikin game.

Di babaflash juga jadi sering liat-liat thread tentang game. Terus di sana muncul page khusus untuk submit game. Wah, makin asyik deh. Terus entah gimana caranya ada yang ngasih link ke gamedevid (Game Developer Indonesia, atau GDI). Sebuah forum tentang gamedev.

Dunia Gamedev Penuh.. Infract

Dan akhirnya saya join ke Gamedevid deh. Forumnya kelam. Hitam-hitam coklat. Beda banget dengan Babaflash yang warnanya merah dan emas. Setelah saya join... dan entah apa yang saya lakukan kala itu... saya kena infract. Infract itu semacam peringatan dari moderator forum. Gak tahu kenapa ya, mungkin karena saya ngepost yang kurang pas sama budaya GDI kala itu. Atau mungkin sayanya masih terlampau alay, kalau gak salah masih SMP. Wakak.

Kejams.

Semenjak itu saya jadi silent reader doang di GDI, takut salah-salah. Hahah.

Terus produk apa yang dulu dibikin?

Saya belum pernah bikin game yang emang dikonsepkan mau bikin game. Semuanya serba eksperimen dan coba-coba. Nggak pernah profit juga. Jadinya... ya saya cuma pengembara saja di dunia gamedev Indonesia, lalat-lalat dan semut di pinggir remah-remah roti. Cie.

Tapi saya berterima kasih sekali dengan dunia gamedev karena mengantarkan saya ke dunia pemrograman juga. Akhirnya sampai saya jadi terjun ke kuliah Ilmu Komputer. Bertemu dengan rekan-rekan yang tertarik di gamedev. Ikut lomba-lomba aneh-aneh. Hingga akhirnya meneruskan yang "agak serius" ke dunia kerja Game Development.

Hingga saat ini.

Nggak Sengaja?

Ya... bisa dibilang juga ke dunia gamedev ini nggak sengaja sih. Ada beragam hal di sana-sini yang mempengaruhi. Mungkin kalau saya di lingkungan pemusik nantinya jadi musisi, kalau di lingkungan pematung nantinya jadi patung, eh....

But who knows, life is a journey. Ke mana gamedev ini mengantarkan saya nanti. Tapi saya senang dengan dunia gamedev karena penuh dengan eksperimen dan seni. Asyik-asyik gitu deh.

Dan "katanya" ada duitnya juga. Iya, katanya. Sekalian mau ngabarin akhirnya game saya ngehasilin duit juga, wakak.
Lumayan lah ya, alhamdulillah :')

Akhir kata, wabilahitaufik wal hidayah, wassalamualaikum warrahmatullahi wabarokaatu.

Sunday, October 9, 2016

Jajan Film Di Google Play Movies

Siapa sih yang gak tahu Google Play? Toko online untuk artefak digital di pajang di sini. Mulai dari yang lumrah seperti aplikasi dan game, hingga buku dan film ada. Kali ini saya ingin membahas tentang jualan film nya.

Penyedia layanan sewa dan beli film ini bernama Google Play Movie. Pengguna disuguhkan untuk melakukan online streaming atau download film. Ada banyak judul dari beragam studio yang bisa dipilih.

Nyobain Jajan

Jajan lagu sudah pernah pakai Spotify. Jajan game sudah sering baik lewat Google Play atau Steam. Jajan film belum nih. Kayaknya asyik untuk dijajal. Saya sering mendapati rekomendasi film saat membuka Google Play. Now it's the time. Heh, kayaknya Google cukup berhasil mengiklankan fasilitas ini ke saya.

Frontpage laris itu benar adanya
Setelah browsing-browsing sebentar, saya memilih untuk membeli Zootopia. Iyap, film dari Disney tentang dunia hewan itu loh. Fabel moderen. Kenapa saya memilih film ini? Pertama karena saya belum pernah nonton (dan terima kasih untuk teman-teman yang tidak pernah spoiler), kedua karena saya sering mendengar lagunya di Spotify.

Playlist Disney Hits paling ciamik untuk menemani ngoding
Jadi demikianlah, akhirnya saya membuka halaman Zootopia. Di Play Movies ada beberapa pilihan pembelian. Bisa untuk sewa atau beli. Apa bedanya? Untuk "sewa" maka film maksimal bisa mulai ditonton 30 hari semenjak hari pembelian serta bisa dimainkan selama 48 jam semenjak pemutaran pertama. Sedangkan untuk "beli" maka kamu punya hak untuk memutarnya terus menerus.

Hak miliknya? Ya punya Disney lah! Abad 21 gini masih bingung tentang hak milik karya digital? Ugh! PenPineappleApplePen.

Saya memilih untuk membeli, karena sepertinya saya akan menontonnya berulang-ulang. Oh, untuk pembelian ada dua jenis, yang SD dan HD. Perbedaannya ada di kualitas film nya. Bedanya sekitar tiga puluh ribuan. Saya memilih untuk yang SD saja.

Untuk pembayaran saya menggunakan billing Indosat. Karena Indosat jadinya kena PPN dan jasa. Jadi 139.000 (harga) + 13.900 (PPN) + 16.680(jasa) = 169.580. ANYIS, MAHAL JUGA (baru sadar ketika postingan ini ditulis).

JAJAN MAHAL. YAIKS!

Mulai Nonton

Untuk memulai menonton saya harus mendownload lagi satu aplikasi, yakni "Google Play Movies & TV". Menurut saya tampilannya seperti Google Play seperti biasa sih. Pengguna bisa browsing dan membeli film di sini. Sepertinya yang membedakan adalah pemutar video nya. Ya... semacam YouTube untuk film yang sudah dibeli.

Yang kiri aplikasinya, yang kanan shortcutnya. 

Saat pertama kali membuka saya diberi peringatan karena saya tidak menggunakan WiFi. Fitur yang bagus. Tapi kan saya nggak langganan internet broadband rumah juga :')
Use mobile network? YES
Sayangnya saya tidak bisa nonton online (streaming). Kurang tahu kenapa. Apa karena device saya Xiaomi? Kurang tahu juga ya.
Yah, nggak bisa nonton online.
Jadi satu-satunya cara adalah dengan download filmnya terlebih dahulu. Saat memulai download saya tidak bisa memainkan filmnya, karena harus di... download. Duh. Oh, tapi kalau sudah beberapa persen sudah bisa mulai diputar kok.

"Sabar mas" kata mba Google
"Tapi kan saya nggak sabar untuk nontonnya!!!" Iya iya. Kamu juga bisa untuk menikmati film yang sudah kamu beli di browser kok

Bisa ditonton langsung pakai browser. Ceritanya disensor. Ciye.

Sayangnya film yang dibuka dari browser tidak bisa didownload kecuali kamu pakai Chromebook. Emang siapa yang pakai Chromebook? Ha. Ha.

Ah, yang penting pokoknya kamu bisa menonton dengan cara ini juga. Dengan layar yang lebih besar pula. Sayangnya karena koneksi Indosat agak 'meh' kalau belum terlalu malam (padahal 4G tapi hanya mencapai sekitar 80Kbps) jadi filmnya tidak melakukan streaming secara sempurna. lima detik jalan, 10 detik pause, dan begitu seterusnya. Aagh.

Ya sudahlah ya, mari bersabar dengan mendownload filmnya.

Kyaa kyaaa

Nonton

Aplikasi Google Play Movies tidak membolehkan untuk melakukan screenshot saat film sedang dimainkan. Bahkan aplikasi mirroring yang saya gunakan hanya menampilkan layar hitam. Hm.. Boleh juga.

But overall feels good. Captionnya bagus dan disesuaikan dengan posisi karakternya. Misalnya karakternya di kanan maka captionnya ada di kanan. Ya... nggak sekedar teks yang muncul. Sayang saya hanya bisa menonton di telepon genggam, tapi lama kelamaan karena sudah hanyut dalam cerita saya tidak sadar menatap layar yang kecil.

Zootopia-nya sendiri sangat worth it. Ceritanya inspiratif dan mengurai tentang keyakinan, rasisme, semangat, dan kehidupan. Bagus deh. Semua harus nonton. Kayaknya cocok untuk ditonton saat sedang di titik nadir. Cocoklah buat saya yang sering galau "what should I do for life?" Heheh.

Kok nggak bajak aja sih? Gratis lagi!

Whoa whoa whoa mate! Hang on there! Sudah saatnya dikurangi pelan-pelan untuk bajak membajak ini. Satu-satunya yang perlu dibajak di Indonesia adalah tanahnya. Kita sudah kekurangan lahan sawah.

Memang sih rasanya mahal, tapi Rp 170.000 untuk beli satu film itu sudah termasuk murah loh. Rentang harganya sesuai dengan beli DVD/Blue Ray asli. Caranya juga gampang banget tinggal download.

Ah, tapi apalah saya ini. Kalau ada film bajakan juga saya tonton. Tapi hey, tak ada salahnya untuk menggunakan yang asli kan?


Rasanya lebih puas loh. Setiap detik dan pixel dari filmnya terasa berharga dan ingin terus ditonton hingga credits terakhir. *nggak mau rugi* Mwahahaha!