Monday, March 14, 2016

#AskIgrir: Apa yang Harus Dilakukan Kalau Gaji Telat Turun?

Hai! Assalamualaikum! Salam salam semua. Kali ini kita akan membahas sebuah topik yang ditanyakan oleh seseorang via Twitter melalui hashtag #AskIgrir. Pertanyaannya kayak gini:
The question!
Hm... pertanyaan yang sulit. Tapi saya coba jawab dengan *uhuk* bijak secara perlahan ya.

Gaji yang telat turun mungkin, spekulasi saya, karena gaji kamu masih di atas. Coba perhatikan medan gravitasi yang ada di sekeliling kamu menggunakan gravimeter. Siapa tahu sebenarnya gaji kamu sedang melayang-layang. Coba juga perhatikan ke luar jendela. Siapa tahu sebenarnya kamu sedang di luar angkasa. Perusahaan tidak bisa mengontak seseorang yang berada di luar orbit bumi. Biayanya terlalu mahal. Kecuali perusahaan kamu NASA ya.

Bila ternyata tidak ada anomali gravitasional, kamu masih memiliki daya equilibrioception, dan sistem vestibular yang mumpuni, berarti mungkin ini adalah hal yang masih dalam batas kewajaran. Gaji kamu belum ditransfer. Mungkin karena itu.

"Ya iya atuh nying. Da aing ge apal!"

Atuh, tong marah-marah oge atuh kang. Heuh.

Memang sih gaji yang telat turun dipercaya menaikkan hipertensi sehingga memicu vertigo dan banyak efek samping psikis. Secara psikologis juga menurunkan kepercayaan diri dengan timbulnya pertanyaan-pertanyaan akan kecakapan kinerja kerja yang bersangkutan. Belum lagi ditambah beban moral jikalau yang bersangkutan memiliki keluarga. Atau harus bayar pajak STNK. Atau harus bayar tunggakan rumah. Ah, tidak usah jauh-jauh. Cicilan waifu yang belum selesai misalnya? Cukup berat. Cukup berat. Ckckckck. Kombinasi akan hal-hal tersebut dapat memberikan rasa jengah secara sosiologis. Depresi akut transdimensional yang harus diterapi mulai dari alam bawah sadar tingkat lima.

Untuk itu saya akan memberikan beberapa tips terkait hal tersebut.

Pertama-tama, anda bisa mencoba untuk melupakannya. Hah? Kok dilupakan? Ya iya. Daripada capek mikirin gaji mending capek mikirin hal yang lebih bermanfaat kan? Anda bisa melakukan beragam kegiatan lain yang membantu anda melupakan. Misalnya ngeblog atau bikin komik. Atau makan bakso misalnya. Yang penting bikin lupa.

Baper.

Kedua, anda bisa membuatnya sebagai lelucon. Agar tidak menjadi kekonyolan lokal, coba terlebih dahulu tanyakan kepada rekan kerja anda apakah gajinya masih belum turun juga. Apabila sama, anda dan rekan anda dapat menjadikannya sebagai bahan guyonan satir. Misalnya "Mendingan naik gaji daripada turun gaji. Tapi enakan gaji turun sih... AhahahuhahuFFFFHHHssssttt" dan langsung lirik-lirik nakal pas bos lewat. Anda akan tertawa bahagia sampai berlinang air mata. Mungkin diakhiri isakan. Tapi anda tidak sendiri! Jadi bisa saling puk puk antar rekan anda. Rame kan?

Koplook

"Tapi kan saya butuh duit?"

Nah, itu yang mengarahkan kita ke poin ketiga. Anda bisa membuka jasa jual diri (atau istilah transaksional eksekutif pedantik inggrisnya adalah freelance) untuk mengerjakan hal lain yang menghasilkan duit. Coba renungkan sebentar. Apa yang bisa anda lakukan di luar jam kerja anda untuk menghasilkan duit? Mungkin freelance jadi tukang becak malam, freelance jadi pengangon bebek senja, atau freelance jadi muadzin di mesjid terdekat. Seperti pepatah yang sering dielu-elukan... Everything is possible jika semuanya memungkinkan! Nothing is impossible saat tidak ada yang tidak mungkin!

Jangan suka minta yang gratisan

Ya gitu deh ya. Tapi jangan lupa, kamu harus tahu bahwa mungkin bos kamu juga lagi bingung mikirin buat ngegaji karyawan-karyawannya. Duit nggak tinggal dipetik dari pohon tjuy. Dan pada akhirnya gaji kamu juga bakalan turun kok. Jadi sabar dulu aja ya. Kalau lagi kepepet banget butuh duit coba scavenging di kantong-kantong baju cucian kamu. Siapa tahu dapat 600-700rb. Lumayan kan?

That's all for #AskIgrir hari ini! Kalau ada pertanyaan absurd nan ajaib yang ingin kamu tanyakan bisa langsung mention ke twitter @igrir dengan hashtag #AskIgrir. Sampai jumpa di postingan berikutnya!

Friday, March 11, 2016

PesanDong : Personal Project Yang Niat Tapi Gak Jadi

Beberapa waktu yang lalu saya membuat aplikasi personal project. Iya. Project yang diinisiasi sendiri. Iseng sih maksudnya. Buat kebutuhan pribadi. Sayangnya nggak jadi dipakai. Ahahahay. Bagaimana cerita teknis dan non teknisnya? Silahkan disimak


Latar Belakang (biar kayak skripsi)

Beberapa bulan yang lalu saya membuat sebuah aplikasi untuk mendata pemesanan makanan. Latar belakangnya sih di kantor setiap harinya gantian yang bertugas mesenin makanan. Yang bertugas nanti ngiderin kertas, makanan yang dipesan apa, terus pergi/ngehubungin warung makannya.

Ada beberapa hal yang sering bikin repot dalam ngurusin ginian, antara lain ini:

  1. Dari kantor ada batasan untuk ditalangin makanan, terus sisanya harus dibayar sendiri. Ngitungnya suka bingung siapa yang harus bayar lebih.
  2. Sering ada yang lupa tadinya mesen apa.
  3. Kalau bendaharanya belum dateng atau ada urusan harus bayar sendiri dulu (nanti direimburse). Nah, sering bingung buat duit-duit yang masuk dan keluar berapa aja. Nama-nama yang mesen siapa aja juga suka lupa.
  4. Capek buat ngetik SMS pemesanan.
Berkaca dari hal tersebut saya kepengen bikin aplikasi yang membantu untuk mempermudah piket pesan memesan makanan tersebut. Lumayan juga. Saya belum pernah bikin app android yang oke. Terus mau belajar pakai Android Studio juga. Maka 28 November 2015 saya memulai projectnya. Asik.

Memulai Project

Project Android adalah hal yang baru untuk saya. Eh... pernah sih dulu pas kuliah, tapi ya gitu-gitu aja sih. Nggak beneran bikin aplikasi (emang yang sekarang beneran??). Yang ini "agak" serius lah ya. Kenapa agak? Karena menurut saya banyak CRUD yang mesti dihandle di sana-sini. Agak belibet. Makanya saya mendesain alur si aplikasi.

Alur disini nggak pake UML something-something seperti tugas masa kuliah. Disini saya cuma membuat framework desain sesuai kebutuhan dan kenyamanan saya. Namanya juga project iseng.

Saya menggunakan 3 desain utama dalam project ini, yakni:
  1. Database, menggunakan ERD
  2. Mockup sekaligus alur program
  3. Hubungan kelas activity Android
Alhamdulillahnya saya masih menyimpan kertas-kertas desain yang digunakan. Hampir aja mau dibuang. Mari kita telisik satu persatu. Kalau misalnya kekecilan dan kurang keliatan klik aja gambarnya. Terus jadi gede deh. Bisa disimpen terus di zoom in juga. Ah, meuni spesifik ngejelasinnya. You know lah ya caranya.

Sip. Sip. Mari kita mulai

Desain Database


Yang ini desain databasenya. Namanya sekenanya aja. Saat development ada beberapa kali revisi dan langsung ditulis gitu aja didalamnya. Buat primary key yang dikasih garis bawah. Standar lah ya. Buat database yang dipakai SQLite nya Android. 

BTW, SQLite keren juga. Penggunaannya mirip-mirip sama MySQL. Cuma ada limitasi di tipe data. But everything is okay.
Desain database pakai ERD acak-acakkan

Mockup dan Alur Aplikasi

Yang ini mockup dan alur aplikasi dari program yang dibuat. Kok digabung sih? Kan biasanya dipisah diagramnya (mockup sama... apa ya.. yang ada swimlane-nya gitu....). Ya namanya juga sesuai kebutuhan yang mendesak. Yang penting nyaman pakainya. Alhamdulillah menurut saya lumayan jelas pas lagi ngerjain.
Mokcup Halaman 1.
Mockup Halaman 2

Alur Activity Classes

Aplikasi yang saya gunakan memanfaatkan Activity nya android. Bisa dibilang satu tampilan itu satu activity lah. Nah, kemunculan tampilan-tampilan yang lainnya memanfaatkan pesan yang dikirim antara satu activity dengan yang lainnya. Saya sempat kebingungan activity mana yang memanggil siapa. Akhirnya saya membuat diagram yang menunjukkan kelas mana yang memanggil kelas yang mana.

Aduh. Gitu lah ya pokoknya. Intinya bikin peta interaksi antar kelas.

Setiap kotak disini melambangkan satu kelas. yang dikasih tanda segitiga artinya Fragment dan yang dikasih bintang itu FragmentPagerAdapter. Itu apa sih? Dua jenis kelas ini untuk tampilan yang bisa di swipe kiri dan kanan. Tahu "tab" nya aplikasi Facebook Android kan? Nah. Itu. Super sekali.

Alur Activity Class

Research

Dan saya menambahkan satu lagi kertas yang ditempel di dinding kamar saya. Research. Ini apa? Ini untuk mendata hal-hal apa saja yang harus saya pelajari cara pemakaiannya. Di bawahnya juga ada masa pengerjaan yang harus saya laksanakan.

Anjis lah ini kok niat ya. Padahal sekarang males-malesan gini. Sedih rasanya memandang masa lalu dan membandingkan dengan sekarang yang pro leyeh-leyeh aktif. Ahaha *jadi curhat*

Daftar riset yang harus dilaksanakan.

Aplikasinya

Emangnya aplikasinya kayak gimana? Mari kita intip screenshotnya

Ini ikon aplikasinya. Namanya PesanDong. Awalnya namanya Warung, tapi sudah itu diganti karena... I just want to. Logonya bentuk p dan d yang saling berhadapan dan menyimbolkan singkatan dari Pesan Dong.

Hah? Apa? Iya ya, kok logonya mirip sebuah perusahaan apaa.... gitu ya. Ini blatant rip off nyolong. Bwakakaka. Sebagian juga karena pengen Parody App gitu sih. Emang ada yang namanya parody app? Ngarang deng.

Si ikon aplikasi. Masih bertengger manis di handphone saya sampai sekarang
Terus ada intronya dong. Hahaha. Kalau misalnya aplikasinya baru di install di belakang splash screen ini sebenernya ngejalanin dumping database. Gaya, pret. Haha.
Splash screennya
Selebihnya tampilannya mulai norak. Biasa, programmer's art. Yang penting fungsional.

Yang ini tampilan Menu yang ada. Bisa ditambah, diedit, dihapus, dsb.
Daftar menu
Kalau tap di salah satu menu, nanti bisa ngedit jenis makanan yang bisa dipesan di Menu tersebut. Satu Menu ini untuk satu warung lah. Dari menu ini juga kita bisa menentukan bahwa ini adalah menu yang bakal diorder.
Tampilan list makanan untuk diorder
Tentu saja untuk warungnya bisa diedit. Tinggal ke tab keterangan.
Keterangan dari warung. Alres is our finest delicacy
Ini buat ngedit warungnya

Itemnya juga bisa diedit
Edit item

Naah, untuk order bisa ditentukan kapan tanggalnya. Ini berguna kalau mau direimburse bisa tahu kapan sih pada mesen makannya. Disini juga bisa ditentukan dibayarinnya berapa, jadi kalau beli yang harganya kelebihan bisa dikasih tahu sama aplikasinya. I'll show you about that later.
Itu di belakangnya bisa dilihat nama order, tanggal order, sama dibayarinnya berapa.
Kalau sudah diorder nanti dia masuk ke tab pesanan. Di tab ini baru si handphonenya bisa diiderin ke seluruh orang buat melakukan pemesanan. Gitu sih rencananya mah....
Tab pemesanan. Contohnya ada pesanan 'sabana deh'
Dari order ini kamu bisa langsung melihat menu-menu yang bisa dipesan apa saja. Ada tulisan harganya juga berapa.
Makanan dan harganya
Oh iya, saya ada ngomong kalau harga makanannya kelebihan dari yang bakal dibayarin ada pemberitahuannya kan? Naah, contohnya misal kalau dibayarinnya Rp 10.000 bakalan dikasih tahu nambahnya berapa pas mau pesan item. Jadi yang pemesan bisa mikir-mikir dulu.
Tuh, contohnya "Nambah Rp 3000 karena dibayarinnya cuma 10000".
Kalau misalnya order, nanti muncul popup kayak dibawah ini. Kalau misalnya ada tambahan, misal "pakai butiran emas", nanti bisa tulis sendiri harga tambahannya berapa
kalau mau pesan muncul popup beginian
Nanti di item tersebut bisa tahu siapa aja yang mesan item tadi. Jadi gampang kan kalau misalnya mau ngitung "paha berapa?" atau "sayap berapa?". Ketahuan orang-orangnya.
Daftar berdasarkan nama pemesan

Eit! Nggak itu aja! Kamu juga bisa ngelihat apa aja item yang dipesan oleh satu orang. Jadi kalau misalnya nanya "Kamu tadi mesen apa aja?" Gampang. Tinggal tap di nama orangnya.
Giri mesen Dada dan Paha. Ayey
Oh, dan tentu saja pemesannnya bisa diedit. Siapa tahu nggak jadi mesen
Bisa ngedit pesanan individu
Nah, kalau semuanya sudah mesen, nanti bisa muncul rangkuman apa aja yang sudah dipesan
rangkuman yang mesen siapa aja
Oh, dan tentu saja.... bisa.... DISHARE!
Bisa dishare dong tjuy
Jadi bisa tinggal dikirim deh ke warung yang pengen dipesan
Bisa dikirim via SMS dengan fitur share tadi
Dan ini tampilan infonya. Nggak penting banget. Tapi gitu deh... Iseng-itas bertaraf internasional
Jangan Rebek. Rebek. Artinya ribet. Ini kosakata yang kantor banget. Nggak tahu bahasa apa.

Jadi Bisa Download Di Mana?

Aplikasinya sih jadi, tapi ya gitu, nggak jadi buat dipakai. Hahah. Kalau emang pengen nyobain bisa ke sini (https://play.google.com/store/apps/details?id=com.prahasta.pesandong)

Kok Gak Jadi?

Jadi ternyata sistem buat piket ngemesenin makanan itu lambat laun makin kurang efektif. Lama-lama orang-orang kantor pada bosen juga sama makanan yang dipesan. Walhasil penggunaan aplikasi ini sama aja boong dong, bahaha. Jadi ya sudah lah ya, saya nggak jadi jumawa sama orang-orang kantor. Biar lah ini menjadi rahasia terpendam yang suram nan kelam. 

Jadi ya udah deh, aplikasinya sampai disitu aja. Nggak dilanjutin lagi. Jadi aja nggak semangat lagi. Bahaha. Aplikasi ini pun di stop developmentnya akhir Desember 2015.

Kesimpulan

Lumayan tapi lah. Bisa belajar cara bikin app android. Jadi... portofolio juga. Hmm... kali.

Dari sini saya juga jadi ngeuh bahwa penggunaan aplikasi itu ya riset dulu ke pemakainya. Kalau misalnya bikin-bikin gitu aja ternyata nggak dipakai kan ya... kayak gini ini. Untung ini cuma aplikasi iseng-iseng ya. Kebayang deh kalau ada perusahaan yang bikin aplikasi serius terus udah ngeluarin biaya berpuluh-puluh jut jut ternyata nggak sesuai dengan penggunanya. Hiih...


That's it folks! Makasih udah membaca sampai bawah sini. Atau jangan-jangan.. kamu ngeskimming dan ngeskip sampai sini ya? Hm... sudah kuduga.

Anyway, selamat hari jumat!

Ini kok random gini ya saya ya. Maklum, lagi stress dan depresi. Ngeblog dikit bisa bikin hari lebih cerah ceria. Lalala.

Jangan lupa baca blog saya yang satunya di itemdrop.blogspot.com. Hih. Promo. But seriously, disana artikelnya lebih absurd tapi terarah. Hohoho.