Monday, June 8, 2015

Oh, berita

Sekarang waktu yang tepat untuk refleksi diri. Bukan, bukan pijat-pijat, namun memandang ke belakang apa yang sudah saya lakukan. Tapi pijat-pijat sepertinya oke juga. Hey, jadi ngelantur.

Auto-pilot


Beberapa minggu ke belakang ini saya merasa dalam mode auto-pilot. Istilah ini saya ambil dari film “Click” yang dibintangi Adam Sandler. Film ini menceritakan remot kontrol yang dapat mengontrol waktu, dan saat pemegangnya melompat ke masa depan, maka masa di antara masa kini dan masa depan akan diisi oleh kegiatan yang tak dirasa dilakukan oleh pemegang remot, yakni auto-pilot. Sebuah kondisi saat pikiran tak merasakan peristiwa namun badan tetap bergerak.

Itulah yang saya rasakan. Peristiwa yang lalu hanya pengisi, tidak terasa maknanya. Bagai makanan tak bergaram. Memang bikin kenyang, namun hambar. Terlebih lagi saya tersadar, saya tidak mengikuti berita.

Saya tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di Indonesia sekarang. Beberapa hanya kelebatan peristiwa dari linimasa jejaring sosial saya. Peristiwa pengungsi Rohingya di Aceh, beras plastik, langgam jawa. Semuanya hanya saya lihat sepintas, tak ada yang terasa tuntas. Saya merasa demikian karena saya tidak dapat menceritakan kembali fakta menarik dari topik di atas. Bukannya tidak menarik, namun saya mengabaikannya dengan alasan tidak sempat.

Waktu


Ada sebuah kalimat dari teman yang masih terpatri di memori saya. Kalimat ini berbunyi “Bukannya tidak waktu luang untuk belajar, tapi luangkan waktu untuk belajar.” Konteks pembicaraannya kala itu adalah belajar bahasa Jepang. Akan tetapi kalimat ini bisa digubah ke peristiwa apapun. Layaknya ketidakpedulian saya akan peristiwa di Indonesia dengan membaca berita, bukannya tidak sempat, namun tidak menyempatkan.

Akan tetapi jika semua hal dapat dilakukan dengan menyempatkan, namun selama ini terasa tidak sempat, apa yang saya lakukan? Kontemplasi saya ini berujung pada waktu luang yang saya lakukan kebanyakan sempat untuk melakukan hal lain. Hal lain seperti membaca artikel untuk melakukan riset untuk kepentingan pekerjaan, membuka jejaring sosial, menonton video-video konyol. Ah, ternyata selama ini saya sempat, namun kesempatan tersebut digunakan secara hampa.

Fokus


Saya ingin mencoba untuk kembali memanfaatkan waktu dengan cara strategi terrencana. Alangkah senangnya waktu saya menggunakan teknik Pomodoro. Saya dapat meninjau kembali kegiatan yang sudah saya lakukan. Saya dapat mengetahui seberapa produktif diri saya. Walaupun mungkin ada beberapa jeda waktu auto-pilot, namun hal itu tercatat dan saya dapat meninjau kembali manfaatnya. Hal tersebut menjadikan saya merasa lebih bermanfaat.

Rasa Senang


Ah, dari refleksi ini saya mengambil kesimpulan bahwa saya akan merasa senang jika pekerjaan yang saya lakukan produktif, tercatat, dan dapat ditinjau kembali. Saya rasa hal ini pula yang menjadikan saya senang untuk menulis blog. Lihat, beberapa bulan ke belakang saya tidak menulis, hal itulah yang menjadikan saya gundah gulana. Pffft.

Penutup

Artikel ini nampaknya cukup serius. Bahasa yang saya gunakan baku dan kurang kekanakan. Apakah ini tandanya saya sudah dewasa? Iya kali ya. Sudah bapak-bapak. Uhuk-uhuk *elus kumis*. Ups, kembali ke inti artikel ini. Saya akan mencoba untuk mencatat kegiatan yang saya lakukan dengan sistem Pomodoro, tidak ignorant lagi ke berita dengan menyempatkan 3 artikel berita sehari, dan mengurangi membuka media sosial terlalu sering. Haha.


Thanks for reading. It’s not necessary to read, but worth to write. Ciao! *terbang*